Jumat, 05 November 2010

Hidup bagaikan Permata

Agama adalah perahu, ya perahu yang diberikan oleh orang untuk menyelamatkan atau membawa kita ke sebuah pulau, entah itu adalah pulau tujuan atau pulau yang diset otomatis menuju pulau standar.
Dulu semua agama arah kayuhannya tergantung kita, kemana kita ingin ke sana perahu itu dikayuh agar kita capai tujuan kita sendiri. Namun saat ini ada banyak agama bagaikan perahu sewaan. Kita tidak bisa mengayuhnya sekehendak kita, kita harus mengikuti kemana dia harus berlabuh, kemudian kita harus memutar dan mungkin berbalik ketika kita ingin mencapai tujuan kita sendiri.
Agama yang sama dengan perahu sewaan adalah agama-agama besar yang dianut hingga orang-orang di luar tempat dimana agama itu terlahir. Sebab, agama didesain mengantarkan orang ke tujuan yang dinyatakan dalam agama itu, yang tidak lain adalah “suatu tempat dalam jangkauan pemikiran orang di situ”. Lalu, ketika orang lain ikut naik perahu agama itu, maka perahu itu akan mengantarkannya sampai ke pelabuhan menurut definisi dalam agama itu, tidak mengantarkannya langsung ke tujuan sang penumpang. Jika memang tujuannya  itu, maka orang dapat merasa bahwa perahu itu pas. Namun realitanya tidak ada tujuan yang sama dari orang-orang yang berbeda wilayahnya, walaupun mereka mungkin berkata dengan kalimat yang sama, “Sampai ke tujuan”.
Sebagaimana sebuah perahu, ketika sampai di tujuan, kita harus buang perahu itu atau biarkan saja terdampar di pantai. Dengan apa yang ada pada kitalah, kita akan menikmati perjalanan di tujuan kita. Kita akan menikmati kebahagiaan bukan dengan agama. Agama tidak akan memungutkan kita emas selama perjalanan, kitalah yang harus memungutnya sendiri. Jika itu tetap terbawa ketika sampai di tujuan, emas itu dapat ditukar dengan barang lain atau kendaraan atau mungkin untuk ongkos menyewa travel dalam rangka berjalan-jalan menikmati keindahan tujuan kita.
Kehidupan memang memberikan banyak pilihan. Ada yang sulit, sedang, dan mudah. Sekian banyak manusia yang pernah singgah di dunia ini, selalu terkotak pada tiga pilihan itu.
Ada yang mengambil pilihan sulit, apa pun risikonya. Mereka rela menyiksa diri demi kebahagiaan yang diidam-idamkan. Bentuknya pun bermacam-macam. Ada yang tidak mau menikah. Ada yang mengharamkan makanan dari yang hidup seperti binatang. Dan lain-lain. Begitu pun dengan sedang dan mudah. Pilihan mudah boleh dibilang yang paling populer, paling disukai. Tak peduli dengan urusan orang lain, lingkungan yang serba susah; pokoknya bisa hidup senang. Mereka bisa tega merampas hak orang lain, menghalalkan segala cara, demi kesenangan hidup.
Islam memberikan pilihan hidup sendiri. Tidak kaku dengan tiga pilihan tadi: sulit, sedang, dan mudah. Kehidupan dunia dalam Islam adalah sebuah persinggahan perjalanan seorang anak manusia. Dalam persinggahan itu, ada berbagai ujian. Persis seperti perantau yang tiba dari perjalanan jauh. Dan persinggahan memberikan aneka makanan dan minuman. Kalau si perantau melampiaskan lapar dan dahaganya di persinggahan itu, ia bisa lupa. Bahwa, akhir perjalanannya bukan di situ. Tapi tempat lain yang harus dengan susah payah ia capai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar